Seorang karib mengirim pesan pada saya begini,

“Kawan, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah tulisan tentang Agama di salah satu portal media sosial. Yah, beberapa waktu ini, membaca artikel keagamaan di web ataupun mendengarkan ceramah-ceramah dari video sudah menjadi rutinitas pagiku tiap hari. Maklumlah, sebagai mahasiswa jurusan tekhnologi waktuku untuk belajar Agama sangatlah sempit.

Artikel yang saya baca itu merupakan tulisan salah satu pemuka Agama. Dalam tulisannya dia mempertanyakan tentang fungsi dari Agama. Menurut dia, naluri sudah memiliki tujuan yang sama dengan Agama. Naluri siapapun sepakat bahwa tolong-menolong antar sesama adalah kebaikan. Begitupun sebaliknya, naluri siapapun sepakat bahwa mencuri adalah kejelekan. Andaikata ada orang bejat yang sama sekali tidak paham Agama ditanyai perihal pembunuhan, pasti ia akan mengakui bahwa hal itu adalah kejelekan.

Begitupun Agama. Bukankah tujuan Agama adalah menegakkan kebenaran dan menjauhi dari kejelekan? Jadi tak ada bedanya fungsi dari naluri itu sendiri dengan tujuan Agama. jika sudah begitu, lantas apa fungsi Agama? Bukankah cukup naluri untuk menuntun orang-orang pada kebaikan.”

Setelah saya baca pesan tersebut, saya tak bisa bercakap, bengong saja cukup lama. Karena ini bukan permasalahan terkait perbedaan pro-kontra maulid. Juga bukan permasalahan tentang perbedaan jumlah rakaat terawih. Ini permasalah yang cukup rumit. Pernyataan tokoh Agama itu bisa saja diterima mentah-mentah jika beragama hanya modal terjemahan al-Quran.

Baca Juga: Saya Santri, Saya Lurus

Untung saja ketika pelajaran Ushul Fiqih kemarin tidak tergoda kantuk. Sempat dengerin dawuh Ust. Khotibul Umam yang ketika itu jelasin beberapa masalah dalam kitab karangan Syaikh Zakariya al-Anshari, Ghâyatul-Wushûl Syarhul-Ushûl.

Yah, salah satu pembahasannya terkait naluri yang sudah searah dengan tujuan Agama. Jadi dalam beberapa hal Agama memang searah dengan naluri. Hanya saja, bukan berarti hal itu membuat Agama kehilangan tujuannya, melainkan fungsi Agama nantinya juga sebagai penguat (ta’yid) lagi pendorong manusia untuk melakukan kebaikan.

Tapi jika ada sebuah permasalahan, sedangkan naluri dan Agama saling bertentangan maka tetap yang didahulukan adalah Agama. Misalnya seperti mani yang suci dan kencing yang najis. Mani yang statusnya suci justru cara bersesucinya lebih ruwet ketimbang bersesuci dari kencing. Jika mani maka orang yang mengeluarkannya harus mandi besar. Jika kencing sudah dianggap suci dengan mengusap alat kelamin.

Jika memaksakan untuk ikut naluri maka harusnya bersesuci dari kencing lebih sulit. Sebab meninjau dari hukum kencing adalah najis sedangkan mani adalah suci.

Permasalahan lain lagi dalam mengusap muzah (semacam sepatu). Sayidina Ali berkata, “Andaikata Agama memakai logika niscaya bagian bawah muzah lebih layak diusap ketimbang bagian atasnya.”

Hadis di atas juga memberikan gambaran pada kita bahwa akal tidak bisa ikut-campur dalam hal yang sudah diatur oleh syariat. Kalau tolak ukurnya akal harusnya yang diusap adalah bagian bawah dari muzah. Sebab ketika memakai muzah yang kotor adalah bagian bawah bukan atasnya. Namun karena syariat sudah mengatur bahwa yang diusap adalah bagian atas maka kita tetap ikut syariat.

Jika Sayidina Ali telah berkata demikian, saya rasa tak ada alasan lagi bagi liberalis untuk menolaknya.

Ghazali | www.Sayasantri.com

ditulis oleh

Ghazali

Santri Sidogiri